Kamis, 14 Mei 2009

Fw : Artikel Mas Didik (2)

Arsip bahan bacaan untuk AGUPENA Cabang Purworejo

Proses Kreatif Menulis
19:12:15 15/05/2007 53 pembaca

Pengirim: Didik Komaidi (202.149.81.114) email: d.komaidi@plasa.com Proses Kreatif MenulisApa sih proses kreatif itu? Ia adalah suatu proses bagaimana sebuah gagasan lahir dan diciptakan oleh seorang penulis menjadi sebuah karya tulis. Misalnya, bagaimana muncul inspirasi tulisan. Lalu bagaimana inspirasi itu mengendap dalam pikiran seorang penulis. Dan bagaimana inspirasi itu dituangkan dalam tulisan? Bagaimana menulis sehingga menjadi sebuah karya dimuat oleh sebuah penerbitan. Itulah pertanyaan-pertanyaan yang berkait dengan proses kreatif. Menulis, menurut Jakob Sumarjo dalam Catatan Kecil Menulis Cerpen (1997), merupakan suatu proses melahirkan tulisan yang berisi gagasan. Banyak yang melakukannya secara spontan, tetapi juga ada yang berkali-kali mengadakan koreksi dan penulisan kembali. Sebuah karya, artikel misalnya, bisa ditulis dalam waktu sekitar satu jam, tetapi bisa juga berhari-hari baru selesai. Potensi dan tabiat orang memang tidak sama, dan itu wajar. Namun dalam kerja menulis baik cepat maupun lamban, selalu mengalami apa yang disebut proses kreatif yang hampir sama. Menurut William Miller seperti dikutip Jakob Sumarjo, berdasar berbagai pengalaman penulis terkenal proses kreatif seorang penulis mengalami beberapa tahap. Pada dasarnya terdapat empat tahap proses kreatif menulis.Pertama, adalah tahap persiapan. Dalam tahap ini seorang penulis telah menyadari apa yang dia tulis dan bagaimana ia akan menuliskannya. Apa yang akan ditulis adalah munculnya gagasan, isi tulisan. Sedang bagaimana ia akan menuangkan gagasan itu adalah soal bentuk tulisannya. Soal bentuk tulisan inilah yang menentukan syarat teknis penulisan. Gagasan ti akan ditulis dalam bentuk artikel atau esei, dalam bentuk cerpen, atau bentuk lainnya. Dengan demikian yang pertama muncul adalah sang penulis telah mengetahui apa yang akan ditulisnya dan bagaimana menuliskannya. Munculnya gagasaan sepeerti ini memperkuat si penulis untuk segera memulainya atau mungkin jugaa masih diendapkannya.Kedua, tahap inkubasi. Pada tahap ini gagasan yang telah muncul tadi disimpannya dan dipikirkannya matang-matang, dan ditunggunya waktu yang tepat untuk menuliskannya. Selama masa pengendapan ini biasanya konsentrasi penulis hanya pada gagasan itu saja. Di mana saja dia berada dia memikirkan dan mematangkan gagasannya. Di sela-sela pekerjaannya, ketika mandi, ketika buang air, ketika menunggu bus kota, gagasan itu selalu dipikirkannya. Munculnya anak-anak gagasan baru, ada yang bagus ada yang tidak bagus, ada yang memperkaya gagasan semula atau menambah kedalaman gagasan semula. Tahap ini ada yang merenungkannya selama berhari-hari atau mungkin berbulan-bulan dan si penulis merasa belum sreg benar untuk dituangkan dalam bentuk tulisan. Dan sikap rata-rata penulis memang membiarkan ide atau gagasan itu membentuk dirinya di bawah sadar, sampai tiba saatnya "hamil besar" gagasan itu siap dituliskan. Dan kalau saat itu tiba, biasanya semuanya mengalir begitu deras dan lancar. Miller menasehati: jangan paksa dirimu melahirkan sebelum waktunya tiba. Jangan menentukan deadline! Biarkan saja masa inkubasi ini berlangsung secara wajar. Inilah sebabnya karya-karya pesanan seringkali seteengah matang lantaran si penulisnya dipaksa melahirkan sebelum "kehamilan gagasannya" menjadi cukup matang.Ketiga, saat inspirasi. Inilah saat kapan bayi gagasan di bawah sadar sudah mendepak-depakkan kakinya ingin keluar, ingin dilahirkan. Datangnya saat ini tiba-tiba saja. Inilah saatnya "Eureke" yakni saat yang tiba-tiba seluruh gagasan menemukan bentuknya yang amat ideal. Gagasan dan bentuk ungkapnya telah jelas dan padu. Ada desakan kuat untuk segera menulis dan tak bisa ditunggu-tunggu lagi. Kalau saat inspirasi ini dibiarkan lewat, biasanya bayi gagasan akan mati sebelum lahir. Gairah menuliskannya lama-lama akan mati. Gagasan itu sendiri sudah tidak menjadi obsesi lagi. Tahap inkubasi memang tahap yang menggelisahkan.Keempat, tahap penulisan. Kalau saat inspirasi telah muncul maka segeralah lari ke mesin tulis atau komputer atau ambil bolpoin dan segera menulisnya. Keluarkan segala hasil inkubasi selama ini. Tuangkan semua gagasan yang baik atau kurang baik, muntahkan semuanya tanpa sisa dalaam sebuah bentuk tulisan yang direncanakannya. Orang menjadi kesetanan menulis dan menulis. Lupa makan dan lupa tidur. Semuanya berjejalan ingin segera dituliskan. Bukanlah kran jiwamu sebesar-besarnya. Jangan pikirkan mengontrol diri dulu. Jangan menilai mutu tulisanmu duhulu. Itu nanti pada tahap berikutnya. Rasio belum boleh bekerja dulu. Bawah sadar dan kesadaran dituliskan dengan gairah besar. Hasilnya masih suaatu karya kasar, masih sebuah draft belaka. Spontanitas amat penting di sini. Kelima, adalah tahap revisi. Setelah "melahirkan bayi" gagasan di dunia nyata ini berupa tulisan, maka istirahatkanlah jiwa dan badan anda. Biarkan tulisan masuk laci untuk sementara. Kalau saat-saat dramatis melahirkan telah usai dan otot-otot tak kaku lagi, maka bukalah laci dan baca kembali hasil tulisan kasar dulu itu. Periksalan dan nilailah berdasarkan pengetahuan dan apresiasi yang anda miliki. Buanglah bagian yang dinalar tak perlu, tambahkan yang mungkin perlu ditambahkan. Pindahkan bagian atas ke tengah atau bawah atau sebaliknya. Potong, tambal dan jahit kembali berdasarkan rasio, nalar, pola bentuk yang telah diapresiasi dengan baik. Di sinilah disiplin diri sebagia penulis diuji. Ia harus mengulangi menuliskannya kembali. Inilah bentuk tulisan terakhir yang dirasa telah mendekati bentuk idealnya. Kalau sudah mentap, boleh diminta orang lain buat membacanya. Kritik orang itu boleh untuk bahan penilaian, tetapi jangan sampai membuat kamu terpuruk dan stres. Kalau sudah mantap benar, barulah boleh dikirim ke penerbit atau media masa. Hasilnya terserah redaktur. Demikianlah tahap-tahap proses kreatif menulis secara umum. Tiap orang tentu berbeda sesuai pengalaman dan jam terbangnya. Bagi penulis pemula proses kreatif barangkali agak lamban. Tetapi, bagi penulis profesional yang punya jam terbang tinggi, proses kreatif akan berlangsung singkat. Namun, kalau sering dilatih setiap orang akan semakin terampil dan cepat proses kreatifnya dalam melahirkan karya-karyanya. Kalau begitu bagaimana dengan anda? Tentu jawabannya ada pada diri anda sendiri bukan?Didik Komaidi, penulis buku B-Love and D-love (2007) dan Santri Lelana (2006) guru Bahasa Arab MAN 2 Wates Kulon Progo Yogyakarta.

Tidak ada komentar: